RAME….RAME…..UNTUNG, Bisnisku rame dan untung….
Dear All,
Bila kita mempercayai hukum tarik menarik atau LOA sebaiknya mari kita selalu berpikir, menulis, mengungkap, berucap dan bertindak semuanya dengan positif saja. Maaf nih misalnya kata “Bisnis lagi sepi” ini rasanya negatif ya dan bernada pesimis. Maka yuk kita buktikan vibrasi energi positif LOA. berpikirlah, tulislah, ungkapkanlah, berulang ulang dengan penuh semangat ” rame …untung, bisnisku rame dan untung”. Kalau kita memang menghendaki bisnis rame dan untung”. Insya Allah menjadi kenyataan. Teori LOA di buku The Secret “Pikiran yang sedang Anda pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masadepan Anda. Apa yang paling anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai hidup anda. Pikiran anda menjadi sesuatu.”
Saya memang belum lama bergabung di milis lingkar LOA dan belum lama juga memahami LOA namun sudah banyak sekali kejadian-kejadian yang semula saya pikir kebetulan saja ternyata itu LOA. Teori LOA menurut saya (kebetulan saya orang Jawa),sudah ditanamkan oleh orang tua dan nenek kakek kita sejak dulu. Contohnya ungkapan “Untung, Ngono ya ngono ngona ngono ning ojo ngono…………. arti ringkasannya bersyukur, berbuatlah yang positif saja meski keadaan belum seperti yang kita harapkan. Untungnya orang Jawa bisa berarti ungkapan syukur. Bukan hanya sekedar dapat uang ya. Syukur tambah pengalaman. Syukur tambah jaringan. Syukur tambah saudara dan sebagainya.
Nah anda semua yang baru atau sedang memulai usaha, anjuran saya mulai dari sekarang hendaknya “punya mimpi, pikiran, bayangan, ucapan dan tindakan” semuanya diarahkan ke hal yang positif saja sehingga yang terjadi ya positif. Bila suatu kali kita mengalami hal yang kurang menyenangkan atau tidak sesuai harapan…anda boleh sedih atau kecewa tapi sebentar saja. Bahkan kalau mau menyanyi di mana saja kapan saja pilihlah syair yang positif seperti lagu “di sini senang di sana senang dimana-mana hatiku senang,” (LOA lagu anak-anak, idenya mas Adib)
Bagi yang sedang jatuh cinta nyanyikan saja lagi Jatuh cinta berjuta indahnya hindari lagu patah hati….. atau sakit hati….sakit gigi dsb.
Bila berbisnis…berulangkali katakan saja “rame….untung”…dan the last but not least secara spiritual ungkapkan kata “SYUKUR”, lagunya juga lagu “SYUKUR”. Segala sesuatu yang diungkapkan berulang-ulang akan tergambar dipikiran dan menjadi kenyataan…..dan masa depan. Jadi lebih menjanjikan hidup sukses dengan mengungkap yang positif saja dari pada negatif bukan?
Nah mari segera merubah sikap menjadi positif. Ketika laptop suami saya hilang dua minggu yang lalu …dia agak stress karena semua data dan back up data juga hilang semua. Kita memang sempat lapor ke polisi juga namun saya segera berpikir positif. Sudahlah pak….Ini jalan menuju sukses…..Apa yang terjadi? Ternyata benar ada saja jalan Tuhan yang menunjukkan titik terang menuju sukses. Insya Allah…hari Senin yad di tempat usaha saya akan dilakukan shooting film dokumenter oleh stasiun TV Jerman untuk sejarah perjamuan di Indonesia. Ini promosi kemancanegara yang luarbiasa. Kok usaha kita yang dipilih? Apa ini kebetulan saja? Menurut saya ini bukan kebetulan ini jalan Tuhan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Buyer saya dari Jerman semakin teryakinkan untuk mengeksport produk kita ke Eropah. Bahkan bosnya Nyonya Menir mas Charles Saerang juga tiba-tiba meminta kita kerjasama. Dia akan memasarkan produk kita ke negeri China. Semoga ini jalan menuju sukses.
Nah bila anda mau bukti bagaimana tulisan saya “Obat tradisional Indonesia tembus pasar dunia”. tgl 10 Desember th 2004 yang dimuat di harian KOMPAS. Kini di bulan November tahun ini 2007, impian saya sedikit demi sedikit mulai terwujud. Silahkan disimak. Semoga ada manfaatnya.
Obat Tradisional Indonesia Tembus Pasar Dunia?
Akhir-akhir ini pengobatan alternatif mempergunakan ramuan tradisional tidak hanya diminati oleh masyarakat pedesaan, tetapi juga kalangan menengah ke atas perkotaan. Pengobatan tradisional menjadi semacam tren di tengah masyarakat yang selama ini lebih banyak mengandalkan sistem pengobatan modern, kalangan medis, dan ilmu kedokteran dari Barat. Seiring dengan tren “back to nature” yang kini merebak di dunia, khususnya dunia pengobatan, mampukah obat tradisional menembus pasar ekspor dunia?
Masyarakat kini seolah menyadari, bahwa ternyata obat tradisional yang sebenarnya sudah lama dikenal dan dipraktikkan sejak beribu tahun lalu itu tidak kalah hebat dari obat modern. Kalau dulu, kesembuhan dari suatu penyakit hanya bergantung dari pengobatan dokter, dan seolah-olah kata-kata dokter seperti sebuah “aturan yang tak terbantahkan serta mutlak harus dituruti”, maka kenyataan itu mulai bergeser.
Kini di mana-mana mulai banyak bermunculan klinik-klinik pengobatan tradisional. Bahkan tempat praktik-praktik paranormal pun mulai banyak dikunjungi para “pasien” yang ingin beroleh kesembuhan dengan cara yang terkadang tidak masuk akal. Kenyataan ini tidak hanya terlihat di kota-kota kecil, akan tetapi juga di kota besar seperti Jakarta. Pengetahuan tentang pengobatan tradisional dari nenek moyang, kini mulai banyak digali. Meskipun demikian, ada pula sebagian orang yang lebih bijak dan realistis, dengan tetap melakukan diagnosis serta terus mengikuti perkembangan penyakitnya melalui dokter modern, tetapi sehari-hari proses pengobatan yang dilakukannya menggunakan obat-obat tradisional.
Di Indonesia, penggunaan obat alami yang selama ini lebih dikenal sebagai jamu, sebenarnya telah meluas dipraktikkan oleh nenek moyang kita. Masyarakat kini terus melestarikannya sebagai salah satu warisan budaya kita. Dan memang sebenarnya, bangsa kita yang terdiri dari berbagai suku bangsa ini memiliki keaneka-ragaman obat tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami Indonesia sendiri, termasuk di antaranya tanaman-tanaman obat.
Potensi yang amat besar dari negeri kita ini membuat banyak pihak ingin meneliti dan memanfaatkan bahan-bahan alami dan tanaman obat ini untuk berbagai kegunaan lain, seperti kosmetik, pengharum, penyegar, pewarna, ataupun senyawa model yang lain lagi yang bisa disimak dalam perkembangan berbagai produk semacam itu akhir-akhir ini. Upaya ini, selain melestarikan warisan budaya nenek moyang kita, juga akan menggali berbagai faedah yang ada di dalam kekayaan alami kita sendiri, yang selama ini kita tidak manfaatkan sebaik-baiknya.
Industri Jamu di Indonesia
Pada dasarnya, jamu terbagi atas tiga jenis, yaitu jamu tradisional warisan nenek moyang, jamu yang dikembangkan berdasarkan referensi, dan fitofarmaka. Khusus untuk fitofarmaka, konsepnya tidak berbeda dengan obat modern karena merupakan obat yang berasal dari tanaman yang telah melalui proses uji klinis, serta pra-uji klinis persyaratan formal produk pengobatan.
Selama ini industri jamu bertahan tanpa dukungan memadai dari pemerintah maupun industri farmasi. Dokter dan apotek belum dapat menerima jamu sebagai obat yang dapat mereka rekomendasikan kepada pasien, sehingga produk jamu tidak termasuk dalam produk yang dipasarkan tenaga-tenaga detailer seperti halnya produk-produk obat modern. Di pihak dokter yang mempraktikkan pengobatan, pendidikannya juga masih mengacu kepada pengobatan modern, dan tidak menyentuh substansi pengobatan dengan bahan-bahan alam (fitofarmaka).
Dengan kondisi di atas, tak heran apabila pasar industri jamu tradisional sulit berkembang pesat. Padahal dengan jumlah masyarakat Indonesia yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa, sesungguhnya potensi pasar bagi produk-produk jamu sangatlah besar. Terlebih lagi, saat ini kalangan masyarakat menengah ke atas mulai terlanda tren “back to nature”, menggunakan produk-produk yang berasal dari alam.
Sebagai cerminan, dapat kita bandingkan dengan data yang dimuat oleh mingguan berita Tempo (4—10 Agustus 2003) tentang situasi pasar obat kimia di Indonesia. Mereka sebutkan bahwa pasar obat kimia di Indonesia mengalami kenaikan 20 persen, sayangnya 90 persen bahan bakunya masih berupa bahan impor dari Cina dan India. Meski sudah memiliki 2.250 disteributor, 5.670 apotek, dan 5.500 toko obat, toh konsumsi obat farmasi masih sangat rendah, yakni Rp60 per kapita per tahun. Hal lain yang menghambat berkembangnya pasar obat kimia adalah aturan dan birokrasi yang berbelit-belit serta pajak berganda atas bahan baku, sehingga mengakibatkan melambungnya harga obat.
Dari data di atas, tampak bahwa perkembangan obat farmasi begitu banyak hambatannya. Apalagi untuk dikembangkan oleh industri kecil. Seharusnya, kenyataan ini dijadikan kajian, untuk lebih meningkatkan serta mengoptimalkan potensi kekayaan alam Indonesia sebagai produk obat alami khas Indonesia.
Perkembangan obat tradisional, saat ini justru menggembirakan. Saat ini, mulai banyak penelitian obat-obat tradisional yang dilakukan secara serius. Contoh, penelitian tentang obat penurun kadar kolesterol dan penurun gula darah oleh sebuah perusahaan obat besar di Indonesia dan penelitian obat-obat tradisional yang mempunyai khasiat anti-kanker. Namun demikian, biaya untuk membuat obat tradisional menjadi fitofarmaka sungguh sangat tinggi. Untuk biaya uji klinis, per-item-nya bisa mencapai 300 juta rupiah, bahkan 400 juta rupiah sehingga produsen lebih memilih memproduksi jamu racikan atau ekstrak ketimbang fitofarmaka.
Namun, jika dibandingkan dengan obat alami asal Cina atau negara-negara lain, mengapa obat alami Indonesia tidak sepesat perkembangan obat-obat alami asal Cina tersebut? Harus diakui, memang masih ada beberapa titik lemah dalam upaya pengobatan mempergunakan obat alami Indonesia, sehingga perkembangannya tidak sepesat obat-obat tradisional Cina, India, Korea, dan Jepang. Selain faktor ketidak atau kekurangpercayaan masyarakat, pengobatan dengan bahan alami Indonesia tidak atau belum memiliki tradisi pendokumentasian. Hal ini berbeda dengan pengobatan Cina yang pendokumentasiannya lengkap dan penggunaan, khasiat, serta pentabibannya terakumulasi selama berabad-abad. Pemraktikannya pun melalui proses sosialisasi panjang, serta memiliki unit disiplin tersendiri untuk kemudian membentuk semacam “tradisi keilmuan” Timur dengan standar-standar yang khusus pula.
Selain itu, penyebab ketertinggalan pengobatan dengan bahan alami Indonesia adalah pengembangannya yang masih relatif baru, yaitu pada tahun 1985. Itupun dananya terbatas dan belum mendapatkan prioritas (Kompas, 2000).
Namun apapun kendalanya, saat ini banyak pihak mulai melirik potensi pasar obat tradisional ini, sehingga dari segi bisnis, prospek pemasarannya sangat menggiurkan. Memang idealnya, harus ada pembuktian terlebih dulu mengenai khasiat obat alami terhadap suatu penyakit sebelum obat tersebut dinyatakan dapat digunakan sebagai pengobatan suatu penyakit.
Peluang Pasar Dunia
Pengembangan obat alami ini memang patut mendapatkan perhatian yang lebih besar, bukan saja disebabkan potensi pengembangannya yang terbuka, tetapi juga karena adanya peningkatan permintaan pasar akan bahan baku obat-obat tradisional untuk kebutuhan domestik dan internasional. Hal ini tentunya akan berdampak positif bagi peningkatan pendapatan petani serta penyerapan tenaga kerja, baik dalam usaha tani maupun usaha pengolahannya.
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) yang dikeluarkan pada bulan Juli 2002, perkembangan pemanfaatan penggunaan obat-obat tradisional di bebeberapa negara dapat dilihat dalam daftar berikut ini.
— Perancis : 75 persen penduduknya menggunakan pengobatan alternatif, paling tidak satu kali.
— Jerman : 77 persen dari klinik terapi menggunakan akupuntur.
— Amerika : Pasar untuk pengobatan alternatif mencapai 60 dollar Amerika per tahun.
— Cina : 95 persen rumah sakit di Cina memiliki klinik tradisional.
— India : Obat tradisional digunakan sekitar 70 persen penduduknya.
— Indonesia : 40 persen penduduknya menggunakan obat tradisional, 70 persennya di pedesaan.
— Jepang : Pasar obat tradisional mencapai sekitar 2,5 juta dollar Amerika.
— Thailand : Memiliki sistem terpadu untuk pengobatan tradisional di 1.120 health centre.
Dari data di atas, tampak bahwa tingkat kepercayaan masyarakat dunia terhadap tanaman obat sebenarnya begitu besar. Tinggal bagaimana cara kita untuk membuat sebuah terobosan, agar potensi besar ini tidak diambil oleh negara lain. Di negeri kita pun akhir-akhir ini sebenarnya perhatian terhadap obat alami meningkat tajam. Penelitian mengenai potensi dan khasiat obat alami juga mengalami peningkatan. Hal ini tentunya merupakan sebuah perkembangan yang menggembirakan, mengingat potensi kekayaan alam Indonesia sangat berlimpah.
Bahan baku yang ada, diolah dan dikembangkan menjadi aneka produk jamu, mulai dari jamu yang digosokkan, ditempelkan, dikumur, sampai diminum. Bentuk ramuan ada yang bubuk, kapsul, instan, ada juga simplisia kering. Semuanya kini ada. Penggunaannya pun bervarisasi, dari encok, pegel linu, jerawat, pelangsing, penggemuk, sampai penghancur batu ginjal dan penghalau kanker dan diabetes. Maka, ada baiknya produk yang ada didukung oleh kebijakan pemerintah, serta berbagai pihak terkait guna mengembangkan pelayanan kesehatan, tidak semata-mata tergantung pada obat-obat kimiawi modern.
Sebagai catatan akhir, ingin saya kemukakan bahwa negara Indonesia dengan keanekaragaman kekayaan hayati melimpah, sebenarnya mempunyai peluang amat besar untuk lebih dikembangkan potensinya. Tidak hanya memiliki potensi pasar di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.
Untuk hal ini, diharapkan ada kerja sama yang terintegrasi antara pemerintah dan masyarakat, baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga, dengan demikian bahan baku obat alami akan diakui keabsahannya secara medis maupun klinis. Selain melestarikan warisan budaya nenek moyang kita sendiri, hal ini juga dapat untuk menghindari dicuri atau dikembangkannya warisan berharga oleh negara lain hingga akhirnya bangsa kitalah yang rugi.
Cita-cita besar agar produksi obat tradisional kita diterima dan mendapat kepercayaan masyarakat dunia, semoga bukan hanya sekadar mimpi. Seiring dengan itu, harapan lainnya adalah agar apabila cita-cita ini terwujud, maka devisa negara pun bisa ditingkatkan.
Ny. Ning Harmanto
Ibu Rumah Tangga, Membuka Klinik Pengobatan Alternatif di Jakarta Utara.
Sumber: Harian Kompas, Kolom Ilmu Pengetahuan, Rabu 10 Desember 2004
Recent Comments