Home > Chickensoup > LOA sebelum menikah

LOA sebelum menikah

Saya Ning Harmanto, tertarik untuk menuliskan pengalaman hidup yang erat kaitannya dengan Law Of Atraction. Sebenarnya teori LOA saya kurang paham bener namun setelah membaca pengalaman bu Lies Sudanti saya lebih paham. Niat menulis bukan sekedar mengejar hadiah dari pak Yohannes Arifin Wijaya namun barangkali bisa memberikan inspirasi kepada siapa saja. Tulisan saya terdiri dari dua seri, LOA sebelum dan sesudah menikah.

MELIHAT BINTANG JATUH
Seri I:
Ketika berumur 5th saya pernah melihat bintang jatuh yang sangat indah saat pergi ke sungai untuk buang hajat diantar oleh simbok pembantu rumah tangga,ketika masih tinggal di desa. Bintang jatuh itu gambarannya seperti cahaya kembang api yang besar sekali turun dari langit.Mulanya saya ketakutan namun simbok menentramkan hati saya.
“Jangan takut, siapa yang bisa melihat bintang jatuh itu berkah. Kamu nanti nggak bakalan jadi orang susah seperti sekarang.”
“Jadi saya nanti bisa beli baju, sendal,kalung dari uang sendiri ya mbok?
“Iya, kamu nanti malah bisa nolong orang susah”.
Meski belum begitu memahami kata-kata simbok, namun selalu terngiang-ngiang ucapannya “bisa nolongin orang susah dan tidak bakalan susah”.
Sejak kecil hingga kelas IV SD saya tinggal di sebuah desa di lereng Gunung Merapi dekat rumah mbah “Marijan”, desa kecil itu namanya ‘Kaliwangklu’, kelurahan Pakem, Yogyakarta. Ibu seorang guru SD namanya Aldegonda Suharti Juyeni dan bapak pegawai negeri dengan spesialisasi mantri hewan, namanya. Stephanus Saparjan Danupradonggo dan bekerja di pusat kotaYogya. Saya anak nomer 6 dari 10 bersaudara, 8 perempuan 2 lelaki. Hidup keluarga kami sangat pas-pasan bahkan bisa dibilang miskin. Bisa makan nasi dengan lauk telur ayam itu sudah suatu kemewahan. Yang sering terjadi adalah makan bubur encer atau nasi ’bulgur’ lauknya terasi goreng. Hal ini terjadi saat bapak difitnah teman kantornya dan diskors kantor tidak dapat gaji selama 6 bulan. Syukurlah bapak bisa membuktikan kebenarannya dan akhirnya kehidupan kembali normal, meski masih tetap harus hidup sederhana.
Setiap minggu bapak pulang ke desa untuk melepas rindu dan selalu punya oleh-oleh ceritera bersambung “Api di bukit menoreh dengan peran utamanya Agung Sedayu dan Sekar merah”. Kami semua mendengarkan dengan penuh perhatian. Intinya pendekar Agung Sedayu itu rendah hati dan berulangkali nyaris mati mempertahankan kebenaran, akhirnya bisa bangkit lagi. Sekar merah kekasihnya selalu dengan setia mendampingi. Kisah silat menarik ini karya almarhum SH.Mintarja.
Bapak sendiri memang masih termasuk kerabat keraton Yogya dari keturunan Hamengkubuwono ke II. Bila dalam keadaan darurat salah satu diantara anak-anaknya ada yang sakit kita diminta konsentrasi pejamkan mata berdoa lalu menghentakkan kaki sebanyak tiga kali sambil mengucap berulang-ulang “Pak pulang, anakmu sakit”. Entah bagaimana kejadiannya ternyata meski belum waktunya pulang, bapak bisa pulang. Apa ini juga termasuk hukum LOA? Entahlah….. Yang pasti kalau bapak datang, anaknya yang sakit diobati sendiri dengan mengusap-usap tubuh kita dan didoakan sambil bapak bilang begini: “Tamba teka lara lunga” (artinya: obat datang penyakit pergi) berulangkali diucapkan dan tangan bapak seolah membuang penyakit dari tubuh kita ke tanah. Lalu bapak meniup ubun-ubun kita dan memberi sugesti sembuh, dan kita disuruh minum air putih lalu tidur. Bangun tidur ibu sudah siapkan jamu kunyit atau beras kencur, biar sakitnya nggak kambuh lagi. Ternyata memang benar, kita semua kalau sakit cepet sembuh dan sehat kembali.
Setelah saya kelas V SD, kita semua pindah ke kota Yogya karena bapak ibu sudah membangunkan rumah sederhana untuk kami tempati. Simbok yang sering membantu kami di desa tidak mau ikut ke kota, namun kata-katanya selalu saya ingat “kamu tidak bakalan susah malah bisa nolongin orang susah”.
Meski bapak ibu bekerja dan keduanya punya penghasilan namun kehidupan kami ya masih sederhana, bahkan untuk makan saja kadang ibu gali lubang tutup lubang. Kami bisa makan enak kalau sakit. Makanya sering kali kami berpura-pura sakit saja agar ibu menyediakan makanan yang enak. Saya masih ingat kalau beli sepatu dan baju jarang sekali bisa beli yang baru, seringkali belinya ditukang loak agar harganya miring. Rumah kami berlokasi di Kumendaman, dekat alun-alun Kidul, Plengkung Gading. Ketika SMP saya sekolah di SMP Maria Immaculata, jl. Brigjen Katamso berjalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolah ya kurang lebih 10 sd 15km. Pengalaman berwirausaha ketika kelas V SD adalah jualan permen yang saya dapatkan dari oleh-oleh saudara yang datang dari jauh. Pikiran saya ketika itu kepingin punya uang untuk ditabung. Maklum jarang sekali bisa dapat uang jajan karena keterbatasan dana orang tua. Jadi saya rela tidak menikmati oleh-oleh permen tapi punya uang. Waktu sudah punya uang saya nekad menggunakannya untuk beli permen dan dijual lagi. Begitu sudah terkumpul lumayan ketahuan ibu, ketika sedang menghitung hasil penjualan. Ibu bilang: ”nduk, sekarang tugasmu sekolah dulu, yang cari duit biar bapak dan ibumu saja. Besok nggak boleh lagi jualan ya.” Ketika SMP kalau ditanya cita-citanya apa, selalu saya jawab ’mau jadi suster’. Pikiran saya ketika itu suster-suster di gereja itu tidak ada yang susah,bajunya selalu rapi, putih bersih dan setahu saya mereka aktifitasnya menolong orang susah. Beberapa kali saya bermain dirumah pondokan para suster dan mereka memang sangat ramah dan baik hati. Saya ingin seperti mereka.
Mungkin memang bukan panggilannya saya jadi suster, ketika kelas III SMP ada pria Ambon yang jatuh cinta pada saya (hi hi kata dianya lho). Pas malam minggu dia main ke rumah dan ibu tahu. Entah apa yang menjadi pikiran ibu, begitu tahu saya juga hampir seneng langsung ibu mengambil sikap galak. ”Kamu masih kecil, tidak boleh pacaran dulu, nanti kalau sudah lulus SMA baru boleh. Maka lebih baik kamu ikut mbakyumu saja sekolah di Rembang. Ingat ya,jangan pacaran sebelum lulus SMA”. Ketika itu mau berontak dan melawan tidak tega karena ibu sudah banting tulang bekerja untuk kami semua. Maka lulus SMP saya pindah ke Rembang ikut mbakyu saya yang sulung namanya Windrati, guru TK suaminya guru SMP. Saya sekolah di SMEA Yos Sudarso Rembang yang lokasinya di Jl.Diponegoro, bersebelahan dengan tempat tinggal mbakyu.
Kota Rembang memang sepi, lebih sepi dibanding Yogya. Apalagi sekolah saya itu masih belum punya aktifitas ekstrakurikuler, jadi ya banyak bengongnya sepulang sekolah. Lama-lama saya tidak betah terlalu banyak nganggur lalu saya coba menulis puisi cinta yang berduka. Kemudian saat peringatan hari Kartini di sekolah ada lomba baca puisi, saya ikut dan menang. Maju ke tingkat kabupaten saya menang juga.
Terinspirasi dari surat-suratnya Kartini yang bisa punya banyak teman dinegeri Belanda karena tulisan saya mencoba nulis surat pembaca di majalah remaja untuk mencari sahabat pena. Ternyata sambutannya bagus,ketika itu saya berhasil mempunyai sahabat pena jumlahnya 100 lebih. Mengingat dana terbatas, perangko mahal saya berterus terang pada mereka akan membalas surat-surat yang menyertakan perangko balasan. Jadi modal menulis hanya kertas, pena dan amplop. Senang sekali ketika itu punya temen dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Sejak remaja biasa menjadi tempat curhat meski hanya lewat tulisan. Teringat kata simbok ”nolongin orang susah”, meski hanya lewat tulisan. Selain tulis menulis saya belajar teater bahkan pernah pentas ketoprak, jadi Ken Dedes istrinya Tunggul Ametung yang dibunuh Ken Arok. Saya mau karena dibayar, lumayan buat jajan. Untuk biaya keperluan sekolah saya sering menulisi surat kakak saya no 2 mbak Wiwik dan kakak no 4 mbak dayat. Saya andalkan jurus rayuan minta tambahan dana melalui tulisan he he…geli kalau ingat. Lulus SMEA saya kembali ke Yogya dan ibu saya membolehkan saya pacaran. Apa lagi adik saya yang masih SMP di Yogya malah sudah nekad pacaran.
Nah salah satu sahabat pena saya ternyata kuliah di Gajah Mada lalu kita ketemu dan membangun asmara. Hingga sekarang dia jadi suami tercinta. Saya sendiri memilih kuliah di Akademi Bahasa Asing biar bisa ngomong sama”LONDO” atau bule yang sering berkeliaran di Yogya.
Kuliah sore dan paginya saya bekerja gajinya sebulan Rp.5.000,- sangat kecil tapi saya kepingin punya pengalaman bekerja apa saja. Pulang pergi di antar jemput sama pacar naik motor CB…muantab. Sebelum ini pacar saya naik sepeda klo kuliah, pas ketemu saya dia barusan dibelikan motor oleh orang tuanya. Ketika itu saya membatin”bener kata simbok saya nggak bakalan susah karena kesana kemari tidak naik omprengan.” Saat kuliah saya pernah kursus jurnalistik dan akhirnya saya keluar dari pekerjaan pindah kegiatan jadi reporter koran Kedaulatan Rakyat Yogya. Mantab dan senang sekali bisa mewawancarai pejabat dan orang beken seperti WS Rendra. Bahkan saya pernah berguru sama wartawan senior Kompas almarhumah ”Threes Nio”. Selesai kuliah saya ke Jakarta
ikut kakak nomer dua namanya mbak Wiwik. Saya dikasih pekerjaan membantu menterjemahkan buku, padahal kemampuan bahasa Inggris saya masih sangat jelek.
Jadi sebentar-sebentar melihat kamus…. biarin saja yang penting dapat duit.. Kalau saya punya duit nanti bisa menolong orang susah. Sebelum menikah saya sudah punya banyak pengalaman mendapatkan duit yang khalal, meski itu tidak mudah.

Ning Harmanto.

Categories: Chickensoup
  1. October 6, 2007 at 5:32 am

    Hwarakadah… saya langsung kilas balik nostalgia masa kecil.. he..he..
    Lha wong saya juga anak guru sederhana, sdh terbiasa makan nasi “bulgur”, makan mewah berupa telur dadar dibelah jadi 8 (bapak, ibu + 6 anak) plus kecap yang uenceerr banget.
    Paling seneng kalo dapat jatah “intip” yg masih nempel di kendil, trus diberi kuah sayur lodeh… maknyusss tenan..
    Punya hobi baca cerita “Keris Nogo Sosro & Sabuk Inten” (Maheso Jenar Cs) dan serial cerita silat Kho Ping Hoo.
    Masa kecil yang indah… meskipun hidup susah… yang selalu saya jadikan sbg “alarm” agar selalu bersyukur atas semua karunia Allah dan setiap saat berbagi kasih kepada sesama.

    Salam hormat unt mbak Ning sekeluarga & selamat menebar rahmat,
    Bams Triwoko – sedulur lanang di Jogya.

  2. May 23, 2009 at 3:38 pm

    Mbak Ning dulu lulusan tahun berapa di SMEA YOS SUDARSO?

    Saya dulu sekolah disana (SMP & SMEA jadi satu hlaman).
    lulus tahun 1984.

    Sekarang saya tinggal di Los Angeles, California, tapi masih bolak balik pulang ke Yogyakarta.

    Good article!! I enjoy reading it.

    • May 30, 2009 at 5:45 pm

      Dear Shakuntaladevi, Wah senang bertemu anda meski di dunia maya melalui blog ini. Saya lulus SMEA th.1976, jadi jauh sekali selisih umur kita ya…..ok no problem meski usia saya sudah Oma-oma namun jiwa dan semangat saya tetap nona-nona hehehe. Lebih loengkapnya tentang saya silahkan berkunjung ke http://www.ningharmanto.com atau http://www.mahkotadewa.com atau http://www.mahkotadewa.co.id. Wah asyiknya ya bisa bolak balik ke Yogya. Saya sendiri memang kelahiran Yogya tetapi saat SLTA ikut kakak saya ke Rembang, kakak ipar saya kepala sekolah SMP Katholik (pak Alex Mardiutomo). Akhir bulan Juni ini saya akan ke Rembang utk hadiri perkawinan anak sahabat saya .Ok …salam sehat sukses mulia, mari kita saling kabar kabari ya. Salam untuk seluruh keluarga.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: