Home > Aneka Berita > YA ALLAH AKU BELUM MAU MATI

YA ALLAH AKU BELUM MAU MATI

”Dokter, tolongin dok. Saya belum mau mati, anak saya masih kecil”.

”Ya saya mau bantu ibu. Untuk membantu ibu saya bisanya menggunakan pisau bedah.”

“Pisau bedah?”, begitu dokter selesai memeriksa payudara saya dan menganjurkan saya bersiap diri untuk melakukan serangkaian pemeriksaan proses operasi,saya langsung minta pulang ke rumah diantar suami dan hanya bisa menangis dan menangis. Saya sangat takut mendengar kata operasi, selain itu dananya juga tidak tahu dapat dari mana. Jangankan buat operasi, bisa makan sehari tigakali saja sudah luar biasa….

Suatu kali anak saya yang paling kecil bertanya sambil berkhayal.

”Mak kapan ya mak kita jadi orang kaya ?”, tanya Eneng anakku yang bungsu umur 7 tahun. Kata guru sekolahnya Eneng memang anak pintar dan manis.

”Memangnya kenapa Neng?”

”Memangnya kenapa? Yang jelas enak mak jadi orang kaya, nggak kebanjiran terus-terusan,bisa makan enak terus.”

”Menurut Eneng orang kaya itu yang bagaimana?”

”Orang kaya itu jelas punya rumahnya bertingkat, nggak kebanjiran. Punya mobil, bajunya bagus-bagus dan makannya tiap hari enak. Nggak seperti rumah kita mak, nggak hujan saja banjir. Apalagi kalau musim hujan. Banjirnya dari atas dan dari bawah, Eneng mesti cari-cari tempat yang nggak bocor…..udah gitu kaki sering banget timbul kutu airnya.”

”Ah kamu bisa aja neng, sabar…nanti kalau kamu udah gede, pasti kita nggak susah lagi”

”Jadi kapan kita kaya ya mak?”.

”Ya sabar Neng. Orang sabar disayang Tuhan. Makanya Eneng belajar yang bener, jadi orang pinter lalu dapat kerjaan, duitnya banyak. Kalau sekarang mau jadi orang kaya mendingan tidur terus mimpi jadi orang kaya”.

”Iya mak, kata bu guru mimpi itu bisa jadi kenyataan, kalau kita ikhlas dan terus bersyukur ya mak. Eneng pingin mimpi gini mak, rumahnya dibikin tingkat jadi bisa ngliat rumah tetangga dari atas. Udah gitu kita juga bisa lihat laut langsung seperti rumahnya Ida di ujung sana tuh….Dia juga nggak pernah ngrasain rumahnya kebocoran dan kebanjiran kaya kita”, celoteh si bungsu Eneng dengan matanya yang polos menerawang ke atas.

Setiap kali musim hujan, rumahku di daerah Tanjung Priok memang jadi langganan banjir. Bahkan kadang kala tidak sedang hujan juga kalau air laut pasang tinggi bisa menimbulkan genangan air di teras rumah. Bisa dibayangkan kalau air laut pasang terus datang hujan deras……wah bener-bener menyeng-sarakan. Dari bawah air menggenangi rumah dari atas juga seringkali menimbulkan bocor di beberapa tempat. Jadi atas bawah ada air. Maklum rumahku memang type rumah RSSSB Rumah Sangat Sangat Sederhana Banget.

Rumah yang dibeli dulu cuma sembilan juta rupiah karena dapet warisan dari orang tua di kampung. Lumayan biar orang kata rumah bilik lantainya dipelur semen yang nggak perlu dipel. Enaknya nggak usah bayar kontrak tiap tahun. Apalagi setelah suami kena PHK dari kantornya

Orang biasa memanggilku bi Ipah, ya panggilanku memang bi Ipah. Pekerjaanku buruh mencuci dan menggosok baju di tiga rumah, semuanya orang komplek. Saya berani menerima tawaran lumayan banyak karena nyucinya udah pakai mesin cuci. Saya atur jadwal seperti orang kantoran kerja. Dari pagi jam 07.00 – jam 10.00 di rumahnya Ibu Nani, istirahat sebentar lalu dari jam 11.00 – 13.00 di rumah Ibu Waty dan jam 14.30 – 16.30 di rumah Ibu Hasanah orang Madura, janda muda kaya dan belum punya anak.

Tubuh saya bisa dibilang gemuk karena tinggi 150 cm, berat badan hampir 70kg. Anak saya ada 4 orang, dua perempuan dan dua lelaki, yang tiga sudah menikah yang bontot masih umur 7th, namanya Nina tapi saya biasa memanggilnya si Eneng. Dari tiga anak yang sudah menikah, ada dua yang sudah punya anak. Ini artinya saya juga sudah dipanggil nenek oleh dua cucu yang umurnya masing-masing 4th dan 3 th. Mereka tinggal dengan mengontrak di dekat rumah saya tinggal. Setiap hari selesai tugas nyuci bisa main sama anak dan cucu.

Selain sebagai buruh nyuci, saya juga sering diminta jadi tukang pijit terutama ibu-ibu yang pada kecapekan kerja di kantor. Mereka senang memintaku memijit karena pijitanku mantab, enak dan saya tahu urat. Kadang kala saya juga dimintai pertolongan untuk memijit orang keseleo karena jatuh.Saya bekerja sebagai buruh nyuci baju di tetangganya bu Ning, suami saya tukang pijit, kalau ada yang minta dipijit dapat duit kalau nggak ya di rumah saja. Meski saya sakit masih tetap harus bekerja agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Begitu majikan tahu tentang penyakit saya, dia menawarkan ramuan yang dibuat bu Ning, katanya untuk obat kanker. Untuk sementara saya langsung di suruh istirahat.

” Bu Ipah, ini obat kanker dari bu Ning sudah banyak yang berhasil, coba ibu rebus dan di minum tiap hari. Ini minyak mahkotadewa untuk kompres luka ibu. Jangan putus asa, banyak berdoa dan yakin sembuh, insya Allah sembuh”.

” Ya bu, trima kasih. Saya masih ingin hidup, kasihan anak saya yang kecil,kalau saya mati bagaimana dia. Ada pantangannya enggak bu?”

” Ya ada. Ibu hindari makanan yang dibakar, digoreng berulang-ulang. Juga makanan yang berlemak, cabe, tauge dan makanan yang diawetkan serta ikan asin. Nah, kalau mau masak jangan gunakan MSG tapi pakai bumbu dari bu Ning ini ya namanya IFA Seasoning bisa untuk semua masakan lalu IFA Soupning ini untuk membuat soup dan IFA Flourning ini untuk membuat gorengan ayam, tempe atau tahu”.

” Oh sekarang saya baru sadar nih bu. Pantes aja tiap kali habis makan pakai ikan asin lalu sayur lodeh yang pedes, bumbunya saya kasih penyedap dari warung, eh…. payudara jadi makin ngebet sakitnya. Sampai bingung, lukanya semakin parah. Rupanya bener ya makanan bisa jadi penyebab sakit. Ya, saya pasti akan ikuti nasehat ibu, biar cepat sembuh.”

Syukur alhamdulilah, pelan tapi pasti kanker di payudara yang lukanya sudah sangat mengerikan, ternyata berangsur-angsur mengering dan tiga bulan kemudian sembuh total dengan ramuan herbal dari bu Ning. Ini semua terjadi karena anugerah Tuhan yang luar biasa, ini benar-benar mukjijat. Keluarga dan para tetangga yang tahu bagaimana penyakit saya sebelum ini sangat terheran-heran dan hampir tidak percaya kalau saya sekarang bisa sembuh dan sehat. Saya sungguh bersyukur kepada Allah. Trima kasih juga untuk bu Ning.

(Diceriterakan ibu Ipah, Jakarta Utara)

Categories: Aneka Berita
  1. subeno trio leksono
    May 29, 2009 at 8:40 am

    alhamdulillah , karena Allah senantiasa bersama-sama orang yang bersabar. Selamat ya atas kesembuhannya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: